Senin, 15 Oktober 2007

MARSEL J. TUMBELAKA

PENGENALAN PRIBADI ALLAH DARI SEJARAH MANUSIA PERJANJIAN LAMA

PENGENALAN PRIBADI ALLAH DARI SEJARAH MANUSIA PERJANJIAN LAMA

Ditengah-tengah peradaban regenerasi manusia dari tahun ke tahun, manusia sudah sampai pada tingkat modernisasi dunia. Oleh sebab itu, manusia mulai mempertanyakan keberadaan Allah yang sesungguhnya. Para Filsuf dan Teolog, demikian juga tidak terhitung orang awam disepanjang masa, telah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan definisi-definisi dan asumsi yang mereka pelajari sendiri baik berdasarkan pengalaman maupun sejarah manusia itu sendiri. Sedangkan dalam perjanjian lama, keberadaan Allah tidaklah diperdebatkan. Oleh sebab itu, perjanjian lama menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda sama sekali.

Ada tiga hal yang secara khusus membedakan kepercayaan perjanjian lama tentang Allah dari pandangan-pandangan yang lazim didunia Israel purba:

  1. Allah tidak kelihatan

      Setiap relasi bangsa-bangsa lain terhadap bangsa Israel menggambarkan para dewa dan dewi dalam bentuk berhala. Sedangkan Allah sendiri yang memerintahkan Musa, menjabarkan hukum-Nya untuk tidak menyembah berhala atau yang menyerupai apapun juga.

  1. Allah bukan kekuatan alam

      Kebanyakan agama ditimur dekat kuno merupakan alat untuk menjelaskan dan mengontrol dunia alam yang mempengaruhi kehidupan manusia. Sedangkan perjanjian lama, Allah adalah pencipta bumi dan segala isinya. Itu artinya Allah berkuasa atas alam dan bukan bagian dari alam.

  1. Allah bukan suatu abstraksi

      Buku-buku teologi sistematika modern, sering mendefinisikan keberadaan Allah secara abstrak. Seakan-akan ada semacam formula kimai atau sistematis untuk mengetahui keberadaan-Nya. Sedangkan perjanjian lama tidak menganalisis Allah sebagai specimen dibawah miskroskop. Akan tetapi lebih mengacu pada definisi fungsional, yaitu dengan menelusuri kerelevansian-Nya dalam kehidupan dan pengalaman manusia, seperti “Kasih” sebagai kunci untuk mengenal kepribadian-Nya.







Perjanjian lama (PL) berisikan kitab-kitab yang menunjukan bagaimana Allah berelasi dengan situasi kehidupan sehari-hari yang lebih biasa, baik dalam kehidupan masyarakat ataupun dalam pengalaman pribadi rohani. Dengan variasi yang sedemikian, PL membuat banyak perspektif yang berbeda tentang keterkaitan Allah dengan umat-Nya, yang lebih bersifat Fundamental untuk gambaran total PL tentang Allah. PL melihat bahwa aktivitas Allah tidak dilihat didalam insiden-insiden yang terpisah, namun dalam keutuhan kisah itu seluruhnya. Sesungguhnya hanya karena Allah bekerja maka sejarah dapat memiliki arti yang koheren. Hal ini tentu menjelaskan bahwa sejarah manusia merupakan bentuk aktivitas Allah dalam rancangan-Nya.

    1. Allah memilih umat-Nya

      Bagi bangsa Israel, kisah Abraham sebagai Bapa atas segala bangsa dan bagaimana keturunan Abraham dibebaskan dari perbudakan di Mesir merupakan suatu kisah yang bukan sekedar cerita. Akan tetapi lebih mengacu untuk mengingatkan mereka pada kebaikan Allah dan tanggung jawab mereka. Oleh sebab itu, bagi bangsa Israel kelepasan yang dramatis dari perbudakan dan pendudukan ditanah kanaan bukan sekedar atau disebabkan faktor-faktor geografis tau sosial. Tetapi hal itu merupakan tindakan Allah sendiri (tanpa campur tangan-Nya hal itu tidak mungkin terjadi).

    1. Kasih Allah

      Karakter diberikan dimensi sosial yang kuat oleh para Nabi untuk mengingatkan umat bahwa Allah memberikan perhatian khusus bagi mereka yang menjadi korban penindasan yang tidak adil. Kisah keluaran bukanlah hanya demonstrasi tindakan Allah yang penuh kuasa didalam sejarah., tetapi merupakan suatu pengalaman atas kasih-Nya yang sungguh-sungguh digenapi ketika kasih itu dipusatkan kepada mereka yang tidak mempu menolong diri mereka sendiri.

    1. Kuasa Allah

      Kuasa Allah atas kehidupan adalah hal yang dominan. Allah bertindak bukan hanya didalam kehidupan umat-Nya untuk membawa mereka kepada keselamatan, tetapi Ia juga mengontrol kuasa-kuasa alam, seperti sejarah Allah memerintahkan liah api dan membelah laut teberau.

    1. Keadilan Allah

      Pada pusat iman PL, terdapat kepercayaan bahwa Allah bertindak sesuai dengan standar keadilan-Nya sendiri, bukan secara sewenang-wenang atau tidak dapat diterka. Inti dan hubungan Allah dengan umat-Nya adalah moralitas dan perjumpaan dalam konteks tantangan moral.

DAFTAR PUSTAKA

  • ALKITAB
  • Drane, John. “Memahami perjanjian lama III”, 2003; Penerbit yayasan persekutuan pembaca Alkitab.











Tidak ada komentar: